Semua dimulai tahun 2017, awal aku kerja. Aku merantau dengan maksud membuktikan pada ayah ku, bahwa ibu dan kakak ku tidak sia-sia mengkuliahkan ku. Karena selama aku kuliah banyak ucapan tidak mengenakan ayah yang menyinggung perasaan ibu dan kakak ku. Contohnya, "kuliah, kuliah entok (dapat) ta*k (ta*) gak iro onok hasile", "lulus gak iro megawe", dan "goblok,sekolah gak onok hasile". Karena cacian-cacian itu aku nekat merantau. Jauh dari ibu dan kakak yang selalu melindungi ku.
Awal permasalahan dimulai saat aku mulai bekerja. Aku yang dulu tidak kenal akan pinjaman, tiba-tiba kenal akan namanya pinjaman, cicilan, dan ngamprah. Awal gajian handphone rusak dan ditempat kerja wajib menggunakan handphone karena kantor tempat ku kerja adalah jasa ekspedisi. Jadi aku mulailah aku nyicil handphone.
Dimulai dari situ dan gaji yang tidak stabil karena banyak potongan denda ini itu dan juga biaya sehari-hari karena aku ngekost. Gaji mulai tidak mencukupi, kian bulan gaji tidak cukup untuk biaya hidup setelah dipotong ini itu. Karena takut akan caci maki ayah akhirnya aku mulai mendekati namanya pinjol, yang sudah terplaning akan lunas dalam 3 bulan ditambah cicilan hp. Ternyata masih sama malah aku semakin terpuruk, dan aku mendapat kabar jika ayah mulai berkata yang tidak-tidak lagi, bahkan nyaris mengusir kakak ku.
Aku yang hendak mengabari kakak untuk minta bantuan financial akhirnya tidak jadi mendengar kabar seperti itu, akhirnya yang aku lakukan adalah gali lobang tutup lobang. Berharap kerja dari jam 7pagi-11malam dapat membantu melunasi hutang. Ternyata aku semakin terpuruk sepuruk-puruknya. Selain denda kerja yang aku tanggung, ternyata rekan kerja ada yang main belakang sehingga banyak potongan yang ku dapat.
Aku semakin terpuruk dan tidak berdaya, dikota rantau makan hanya 1x saat malam saja. Hanya air putih yang menemani, semakin terpuruk dengan masalah kantor. Serasa aku sendirian, dan rasanya tidak berdaya melakukan apa pun.
Nb. Untuk orang tua dan calon orang tua apabila berucap lebih hati-hati, karena apa yang kita ucapkan adalah doa dan ucapan orang tua itu disama artikan denga sabdo pandito ratu.
Jangan sampai karena ucapan kita anak-anak kita kesulitan menjalani hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar